Jumat, 28 Januari 2011

PERAN PARADIGMA DALAM REVOLUSI SAINS

PENDAHULUAN
Paradigma adalah kerangka referensi atau pandangan dunia yang menjadi dasar keyakinan atau pijakan suatu teori. Agar paradigma itu dapat diterima oleh semua elemen dan melakukan pekerjaan itu lebih efektif harus ada sharing dan juga memperjelas kepada ilmuwan yang lain .
Untuk menemukan hubungan antara kaidah, paradigma, dan sains dapat dilihat bagaimana sejarawan mengisolasi tempat-tempat tertentu yang diuraikan sebagai kaidah-kaidah yang diterima oleh masyarakat. Penelitian sejarah yang aktual terhadap suatu jenis atau spesialisasi pada era tertentu akan berhadapan pada teori –teori yang penerapannya dalam bentuk konseptual. Pengamatan dan Instrumental, hal inilah yang menjadi Paradigma masyarakat yang dituangkan dalam buku-buku, teks, maupun ceramah serta penelitian laboratorium. Sains adalah merupakan penemuan Fakta, teori dan metode yang dirangkum dalam sebuah teks yang baru oleh penemunya
Yang menjadi ciri-ciri pada tahap awal perkembangan sains adalah terciptanya aliran-aliran baru. Dan tidak ada sejarah yang bias di interprestasi tanpa adanya kumpulan teoritis dan metodologis yang saling berkorelasi lengkap yang harus adanya pemilihan, penilaian dan kritik. Karena jika kumpulan kepercayaan belum lengkap pengumpulan faktanya, maka harus di masukan dari luar oleh metafisika atau oleh sains yang lain serta oleh kejadian yang personal dan historis.
Pada tahap awal perkembangan sain manapun dalam persepsi berbeda atau melukiskan dan menafsirkan gejala-gejala dengan cara berbeda, perbedaan itu lambat laun akan semakin menghilang.

I. PERAN SEJARAH
Dalam sejarah sains perlu melakukan penelitian yang cermat terutama untuk mendapatkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang dikemukakan oleh stereotype yang tidak histories dan diambil dari buku-buku teks sains.

Perkembangan sains merupakan suatu proses yang bertahap dengan proses ini telah melahirkan para ilmuwan. Perkembangan ilmu pengetahuan telah melahirkan aliran keilmuan yang digolongkan kedalam dua peran, pertama mereka harus menemukan ilmuwan mana dan fakta, hukum dan teori apa yang telah ditemukan. Kedua mereka harus menjelaskan kekeliruan pada kepercayaan mitos dan tahyul yang telah terkekang oleh penemu ilmu pengetahuan modern.

Penemuan baru dalam teori bukab satu-satunya peristiwa ilmiah yang mempunyai dampak revolusioner terhadap para spesialisasi yang wilayahnya menjadi peristiwa itu. Komitmen-komitmen yang menguasai sains yang normal juga tidak hanya menetapkan jenis / wujud apa yang dikandung oleh alam semesta, tetapi juga dengan implikasi yang tidak di kandungnya. Penemuan oksigen dan sinar X tidak hanya menambahkan satu item lagi kepada populasi dunia ilmuwan. Pada akhirnya hal ini mempunyai pengaruh terhadap perkembangan dunia sains. Fakta dan teori ilmiah tidak dapat dipisahkan menurut kategori kecuali dalam hal praktek ilmiah normal.

Perubahan paradigma dalam revolusi sains adalah proses membantah tatanan lama sampai ke akar-akarnya, kemudian menggantinya dengan tatanan baru. Begitupula dengan revolusi sains yang diuraikan akan muncul jika paradigma yang lama mengalami krisis sehingga akhirnya orang mencampakannya dan merangkul pardigma yang baru.
II. JALAN MENUJU SAINS YANG NORMAL
Pada tahap awal perkembangan sains dalam persepsi berbeda deretan masalah yang sama atau melukiskan dan menafsirkan gejala-gejala itu dengan cara berbeda, akan tetapi perbedaan itu lambat laun akan semakin menghilang.

Hilangnya perbedaan itu biasanya diawalai dengan kemenangan salah satu aliran paradigma, karena karakteristik kepercayaan dan persepsinya sendiri masih belum berubah informasi dan dalilnya yang relatif lemah. Agar dapat diterima sebuah teori harus baik daripada saingannya, tetapi tidak perlu menerangkan semua fakta pada saingannya.
Agar paradigma itu dapat diterima oleh semua elemen dan melakukan pekerjaan itu lebih efektif harus ada semacam debat dan juga memperjelas kepada para ilmuan yang lain agar bias yakin mereka berada di jalan yang memotivasi para ilmuan, sehingga para ilmuan dapat menyelediki gejala yang lebih rinci dan menggunakannya lebih sistematis dan logis dari pada yang dilakukan oleh ilmuan lain.
Paradigma atau sains normal adalah kesamaan pandang para ilmuan pada suatu masa tertentu untuk dasar praktek selanjutnya. Istilah paradigma atau sains normal di kembangkan oleh Thomas. S kuhn bahwa beberapa kesamaan pandang para ilmuan seperti hukum, teori, aplikasi dan instrument yang menyajikan model-model khusus sesuai dengan tradisi penelitian ilmiah.
Menurut Thomas. S Kuhn paradigma adalah kerangka referensi atau pandangan dunia yang menjadi dasar keyakinan atau pijakan suatu teori. Paradigma yaitu suatu pandangan dunia, suatu cara pandang umum atau suatu cara untuk menguraikan kompleksitas dunia nyata. Jadi paradigma merupakan kesamaan pandang keilmuan yang didalamnya mencakup asumsi-asumsi, prosedur-prosedur dan penemuan-penemuan yang diterima oleh sekelompok ilmuan dan secara berbarengan menentukan corak/pola kegiatan ilmiah yang tetap.
Target sains yang normal hanya hal-hal baru yang besar dan nyata, jika kegagalan mendekati hasil yang diantisipasi itu merupakan kegagalan sebagai ilmuan. Semestinya para ilmuan menemukan hasil yang diperoleh dalam riset normal haruslah signifikan atau brubah dari waktu kewaktu karena merupakan referensi bagi ruang lingkup yang dapat diterapkan oleh paradigma.
Adapun ciri-ciri yang paling menonjol dari masalah riset yang normal adalah hanya membahas sedikit masalah untuk menemukan atau menghasilkan penemuan baru dan konseptual. Masalah-masalah sains yang normal merupakan teka teki dalam pengetian seseorang dapat tertarik pada sains karena hasrat untuk mengeksplorasi wilayah baru, harapan untuk menemukan tatanan dan dorongan untuk menguji pengetahuan yang mapan, motif-motif ini harus disertai untuk membantu mengatasi masalah-masalah tertentu yang artinya akan menyibukkan aktifitas mereka.
Individu yang terlibat dalam riset yang normal tidak pernah mengerjakan hal manapun. mereka kemudian menentang keyakinan bahwa dirinya cukup terampil dalam memecahkan teka-teki yang belum dipecahkan oleh siapapun.
Suartu paradigma mempunyai komunitas pendukung. Pada suatu ketika paradigma yang menguat ini dapat menyelami masa krisis yaitu ketika muncul anomaly. Suatu keadaan dimana paradigma tidak lagi mampu menjelaskan perkembangan yang terjadi. Ujung dari masa krisis biasanya adalah muncul suatu trend paradigmatik baru.

III. KEUNGGULAN PARADIGMA
Untuk mengungkapkan berbagai teori, konsep dan observasi serta alat yang digunakan dalam berbagai buku teks perkuliahan dan paraktek laboratorium semua ini tergolong sebagai komunitas paradigma digunakan investigasi tertutup oleh para peneliti sains.
Mencari kaidah-kaidah lebih sulit ketimbang mencari paradigma, diantara generalisasi yang digunakan untuk melukiskan kepercayaan bersama dari masyarakat itu tidak akan menimbulkan masalah namun yang digunakan sebagai ilustrasi akan tampak begitu kuat. Dan jika perpaduan tradisi riset dipahami sebagai aspek kaidah-kaidah, harus ada rincian-rincian tentang dasar bersama dalam bidang yang sesuai. Akibatnya kumpulan pencarian kaidah yang berwenang membentuk tradisi riset normal tertentu menjadi sumber frustasi yang dalam dan berkesinambungan.
Paradigma masyarakat sains yang matang dapat ditentukan dengan relatif mudah . Tujuan Laporan riset untuk menemukan unsur-unsur yang dapat diisolasi secara gambling atau tersirat yang oleh masyarakat kemungkinan diringkaskan dari paradigma yang lebih global dan digunakan sebagai kaidah-kaidah dala riset.
Pembatasan pengelompkkan paradigma adalah mudah namun tidak seperti pengelompokan paham non ilmiah (rules). Para penganalisis sejarah sains harus membedakan komunitas paradigma dengan komunitas lainnya dengan laporan hasil penelitian yang baru. Paradigma-paradigma dapat menentukan sains yang normal tanpa adanya campur tangan kaidah-kaidah yang ditemukan.

IV. ANOMALI DAN HISTORI SAINS
Penemuan diawali dengan kesadaran akan anomali (fenomena yang bisa diterangkan dengan teorinya) yakni dengan pengakuan bahwa alam dengan cara tertentu telah melanggar pengharapan yang didorong oleh paradigma yang menguasai sains normal. Kemudian dengan eksplorasi yang diperluas pada wilayah anomali.
Sains normal bukanlah suatu teori dan fakta yang baru, yang telah dicapai oleh seseorang. Persoalan baru dan tidak terpecahkan mendorong peneliti sains untuk melakukan penyidikan yang akhirnya menemukan kemajuan atau temuan baru teorinya dan menggambarkan bahwa usaha ilmiah dikembangkan secara unik untuk melahirkan suatu temuan yang menakjubkan.
Untuk memahami bagaimana hubungan kebenaran faktual dan teoritis disejajarkan dalam sebuah pengujian dan penemuan ilmiah. Misalnya digambarkan dalam penemuan oksigen dan sinar X, yaitu ada tiga ilmuan yang dilegitimasi klaimnya tentang oksigen, kesimpulan pertamnya ditolak karena tidak dipublikasikan sampai kemudian penemuan oksigen diulangi dan di umumkan kepada masyarakat.

Pengasimilasian suatu fakta jenis baru menuntut pada penyesuaian tambahan teori yang juga erat hubungannya antara faktual dengan teoritis dalam penemuan ilmiah.

A. KELEBIHAN DARI BUKU THOMAS. S KUHN
Pada dasarnya buku ini adalah menguraikan tentang dasar teori yang menjadi landasan dari paradigma sains. Dimana mengungkap atau menyatukan berbagai macam pandangan-pandangan individu atau kelompok ilmuwan yang didalamnya menyangkut asumsi-asumsi, prosedur-prosedur yang dapat diterima oleh sekelompok ilmuwan dan secara bersama-sama menentukan corak atau pola kegiatan ilmiah yang tetap.
Dari buku ini juga Thomas S Kuhn mejelaskan bagaimana ilmu pengetahuan berkembang pada saat tertentu paradigma tidak lagi dapat menjelaskan perkembangan yang terjadi maka timbul suatu trend paradigmatik baru.

B. KELEMAHAN DARI BUKU THOMAS S KUHN
Dalam buku ini seolah-olah Thomas s Kuhn mengkultuskan kelompok ilmuwan dan kecenderungan yang terus menerus membuat sejarah sains tampil lurus atau Komulatif bahkan mempengaruhi para ilmuwan selalu melihat kebelakang pada riset mereka sendiri. Dan situasi riset tidak pernah terjadi semata-mata karena perbandingan suatu paradigma dan alam akan tetapi terjadi karena adanya kompetensi diantara dua paradigma.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar